Tas Misterius


Namaku Ningrum. Sepulang sekolah, aku bersama sahabat-sahabat baruku berangkat menuju depan ruang biologi untuk mengikuti ekstrakulikuler theater. Mereka bernama Swanda, Hani, Dian, dan Isna. Mereka merupakan sahabat-sahabat baruku saat kelas X ini.

Setelah mengikuti beberapa latihan, aku, Swanda, Hani, Dian, dan Isni izin untuk beristirahat sebentar. Kami keluar sekolah menuju abang tukang cilok, akan tetapi tas kami tetap berada di dalam sekolah. Setelah kami membeli cilok dengan penuh perjuangan, karena antre kami berniat untuk kembali ke dalam sekolah. Akan tetapi, Swanda ingin membeli satu bungkus lagi. Ia memesan kepada abang tukang cilok. Kamipun harus menunggu lebih lama lagi. “ini mbak ciloknya”, itulah kata-kata abang cilok yang paling kami nantikan dari tadi. Tak terasa waktu istirahat kami melebihi batas, alias bonus jajan tingkat dewa. (?)

Kami sangat khawatir dengan apa yang terjadi setelah ini. Berjuta pertanyaan melayang-layang di otak kami. Dugaan kami benar, kakak senior sedang rapat dengan semua anggota. Mereka sedang membicarakan hal serius, sang kakak senior terlihat sangat menyeramkan. Kami mengurungkan niat untuk kembali ke sana. Kami takut dimarahin

Akhirnya, ide cemerlang mampir ke otak kami. Kami punya rencana yang jenius (?). kami mencari tempat persembunyian yang tepat, jika para anak ekskul theater sudah pulang kami akan kembali kesana untuk mengambil tas. Kami berkali-kali piundah tempat, karena kami merasa tempat persembunyian kami tidak aman. Dari balik almari, kami lari ke parkiran mobil, bersembunyi di belakang mobil, lari lagi ke parkiran sepeda motor, lari ke atas, hingga lari dan bersembunyi di pos satpam layaknya orang setengah waras. Padahal toh kami juga sudah SMA, kenapa pemikiran dan nyali kami secetek itu ya. Kami selalu merasa bahwa ada diantara anggota theater yang mengetahui keberadaan kami. Padahal itu hanya imajinasi kami, karena merasa bersalah.

Beberapa menit kemudian satu persatu anggota theater, pergi ke arah luar, alias pulang. Hati kami lega, serasa berada di langit ke-tujuh. Tapi, DOUBLE WHAT!! yang pulang hanya teman-teman kami kelas X? Yang bener aja? Berarti di sana masih banyak kakak-kakak senior dong. Berkali-kali Swanda mengajak kami kembali ke depan ruang biologi, tapi, begitu sudah dekat, nyali kami kembali ciut dan kami kembali bersembunyi. Akhirnya kami putuskan untuk menunggu lagi.

Salah satu kakak theater heran “mana sih pemilik tas misterius ini? Ada tasnyua kok nggak ada orangnya? Kayaknya tadi pamitnya cuma beli cilok aja deh, tapi kok lama banget ya?”. Kami tetap menunggu dan menunggu serta berharap mereka cepat-cepat pulang. Satu menit, dua, lima, dua puluh, tiga puluh menit telah berlangsung, hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kami pasrah, akhirnya kami menyerahkan diri. Ketua theater sempat marah sih ke kami, tapi cuma dikit kok. Jadi gak papalah. Tau gitu dari tadi aja balik, kalau endingnya cuma kayak gini. -hng-

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright 2009 tralala. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates