Cinta


Rasa ini datang begitu saja
Ingatanku padamu tak kunjung sirna
Senyummu mebuat hatiku berbunga
Kurasakan ini diawal kita berjumpa
Apakah ini yang disebut cinta?

Tips Mengatasi Gugup

Kamu harus siap

Tanyakan pada dirimu, hal terburuk apa yang akan terjadi

Tarik napas 30 kali dalam-dalam

Visualisasi dengan cara yang positif

Berlatih, berlatih dan berlatih

Menyadari bahwa orang-orang tidak begitu peduli dengan apa yang kamu lakukan

Tetap berada pada kenyataan


Selamat Tinggal

Aku teringat saat kita bercanda
Saat kita tertawa
Pahit manis kita rasakan bersama
Kau mengenalkanku akan asmara
Kau juga yang membuat hatiku berduka
Kau pergi untuk selamanya
Selamat jalan cinta

Kenangan

Dahulu aku di sini bersama sahabat-sahabatku
Menemani kawanan si bolang
Canda, tawa kudengar setiap hari
Rerimbunan pohon menyelimuti si bolang dari terik mentari
Kini aku tinggal sendiri
Para pecundang telah memangkas kawan-kawanku
Yang dulu rimba, kini menjadi gersang
Tak terdengar suara ceria
Yang ada hanyalah suara buldoser
Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan
Semua tinggal kenangan

Tas Misterius

Namaku Ningrum. Sepulang sekolah, aku bersama sahabat-sahabat baruku berangkat menuju depan ruang biologi untuk mengikuti ekstrakulikuler theater. Mereka bernama Swanda, Hani, Dian, dan Isna. Mereka merupakan sahabat-sahabat baruku saat kelas X ini.

Setelah mengikuti beberapa latihan, aku, Swanda, Hani, Dian, dan Isni izin untuk beristirahat sebentar. Kami keluar sekolah menuju abang tukang cilok, akan tetapi tas kami tetap berada di dalam sekolah. Setelah kami membeli cilok dengan penuh perjuangan, karena antre kami berniat untuk kembali ke dalam sekolah. Akan tetapi, Swanda ingin membeli satu bungkus lagi. Ia memesan kepada abang tukang cilok. Kamipun harus menunggu lebih lama lagi. “ini mbak ciloknya”, itulah kata-kata abang cilok yang paling kami nantikan dari tadi. Tak terasa waktu istirahat kami melebihi batas, alias bonus jajan tingkat dewa. (?)

Kami sangat khawatir dengan apa yang terjadi setelah ini. Berjuta pertanyaan melayang-layang di otak kami. Dugaan kami benar, kakak senior sedang rapat dengan semua anggota. Mereka sedang membicarakan hal serius, sang kakak senior terlihat sangat menyeramkan. Kami mengurungkan niat untuk kembali ke sana. Kami takut dimarahin

Akhirnya, ide cemerlang mampir ke otak kami. Kami punya rencana yang jenius (?). kami mencari tempat persembunyian yang tepat, jika para anak ekskul theater sudah pulang kami akan kembali kesana untuk mengambil tas. Kami berkali-kali piundah tempat, karena kami merasa tempat persembunyian kami tidak aman. Dari balik almari, kami lari ke parkiran mobil, bersembunyi di belakang mobil, lari lagi ke parkiran sepeda motor, lari ke atas, hingga lari dan bersembunyi di pos satpam layaknya orang setengah waras. Padahal toh kami juga sudah SMA, kenapa pemikiran dan nyali kami secetek itu ya. Kami selalu merasa bahwa ada diantara anggota theater yang mengetahui keberadaan kami. Padahal itu hanya imajinasi kami, karena merasa bersalah.

Beberapa menit kemudian satu persatu anggota theater, pergi ke arah luar, alias pulang. Hati kami lega, serasa berada di langit ke-tujuh. Tapi, DOUBLE WHAT!! yang pulang hanya teman-teman kami kelas X? Yang bener aja? Berarti di sana masih banyak kakak-kakak senior dong. Berkali-kali Swanda mengajak kami kembali ke depan ruang biologi, tapi, begitu sudah dekat, nyali kami kembali ciut dan kami kembali bersembunyi. Akhirnya kami putuskan untuk menunggu lagi.

Salah satu kakak theater heran “mana sih pemilik tas misterius ini? Ada tasnyua kok nggak ada orangnya? Kayaknya tadi pamitnya cuma beli cilok aja deh, tapi kok lama banget ya?”. Kami tetap menunggu dan menunggu serta berharap mereka cepat-cepat pulang. Satu menit, dua, lima, dua puluh, tiga puluh menit telah berlangsung, hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore. Kami pasrah, akhirnya kami menyerahkan diri. Ketua theater sempat marah sih ke kami, tapi cuma dikit kok. Jadi gak papalah. Tau gitu dari tadi aja balik, kalau endingnya cuma kayak gini. -hng-

Sungguh Tragis Hidup Lulu

Lulu namanya. Ia adalah seorang siswi TK yang manis dan unyu, tapi sayang dia ingusan. Lulu memiliki seorang kaka perempuan bernama Marsya. Ya, bisa dilihat dari namanya, Lulu berkebalikan dari kakaknya. Kalau Lulu tomboy dan ingusan, kak Marsya cantik dan feminin meskipun masih SD. Tapi, mereka tetap rukun dan saling mencintai layaknya kakak beradik.

Hari ini adalah hari pertama Lulu masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Ya, tepatnya sekarang Lulu duduk dibangku nol besar. Langkah kaki Lulu terhenti ketika ia melihat Bejo. Bejo adalah sahabat baik Lulu. Mereka sering bermain bersama, makan bersama, belajar bersama, pokoknya semua dilakukan bersama. Rasa rindu Lulu pada Bejo terobati setelah mereka berjumpa pagi itu.

Benih-benih suka muncul dari hati kecil Lulu. Ia memberanikan diri menyatakan perasaanya pada Bejo. Dengan dag dig dug akhirnya Lulu berkata, “Bejo, maukah kamu jadi pacal Lulu?” Bejo diam membisu dalam beberapa saat, hal ini membuat Lulu jengkel karena ia merasa dicuekin. Sejurus kemudian, Lulu berteriak, “POKOKNYA BEJO HALUS MAU!! KALU ENGGAK, LULU NGGAK MAU BELBAGI BEKAL SAMA BEJO!! TITIK!!!!!”. Dengan pasrah, Bejo menganggukan kepalanya. Hampir saja ia menitikkan air mata di pipi tembebmnya.

Beberapa hari sebelum kelulusan TK, Lulu memutuskan Bejo karena Bejo sudah tidak ingusan lagi.

Hari silih berganti, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Sekarang Lulu sudah beranjak remaja. Ia duduk di bangku kelas 1 SMA, sedangkan kak Marsya kelas 3 SMA. Ternyata Bejo juga sesekolah dengan Lulu, Bejo ikut akselerasi, ia sekarang kelas 3 SMA juga, dan ia juga sudah punya kekasih. Hal itu menjadi kabar baik, juga kabar buruk buat Lulu. Bagaimanapun, dalam hati Lulu masih terukir nama Bejo.

Hubungan Bejo dengan Lulu sudah tidak sedekat yang dulu. Begitu juga dengan Kak Marsya, sepertinya ada yang disembunyikan. Lulu heran, mengapa hidupnya bisa serumit ini.

Suatu pagi di hari Minggu, Kak Marsya mengenalkan pacar nya pada Lulu. Lulu menuruni tangga rumahnya menuju ruang tamu. Ia sangat terkejut ketika ia melihat bahwa pacar kakaknya adalah orang yang sama dengan orang yang ia cintai dari TK. Ia lari menuju kamar, hatinya sangat sakit, rapuh. Ia patah hati. Diambilnya sebuah silet, dan ia menyayat-nyayat nadinya. Cinta yang dulu terang, kini menjadi gelap. Cinta yang dulu suka, kini menjadi duka. Minggu itu merupakan hari terakhir Lulu. Ia meninggal dunia, sedangkan Marsya dan Bejo hidup bahagia. Sungguh tragis hidup Lulu.

rizka


Halo, aku rizka.. hehehe
Copyright 2009 tralala. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates